Minggu, 03 November 2013

NEGERI BATAK

MENGGAPAI DANAU DI NEGERI BATAK

BATAK DI NEGERI BATAK

BATAK DI NEGERI BATAK
Oleh: Edward Simanungkalit

William Marsden (1754-1836) kembali ke Inggris pada tahun 1779 setelah melakukan perjalanan di pulau Sumatera dan kemudian menulis buku The History of Sumatra. Edisi pertamanya diterbitkan di London pada tahun 1783, edisi kedua 1784, dan edisi ketiga 1811. Marsden pun memberikan perhatian khusus pada tradisi, hukum, bahasa, aksara, kebudayaan, hasi-hasil bumi, penduduk asli Pulau Sumatera dan berbagai masalah yang timbul dalam kontak dengan orang asing. Bab keduapuluh dari buku tersebut melaporkan tentang  Negeri Batak (Batta Country) dan Batak (Batta).

Negeri Batak
Negeri Batak berbatasan dengan Aceh di sebelah utara yang dibatasi gunung Deira dan Papa (Dairi dan Pakpak, pen.) dan di sebelah selatan dibatasi oleh daerah Rao. Pantai sebelah barat mulai dari Singkil hingga Tabuyung dan Kunkun berbatasan dengan Air Bangis di selatan. Dari pantai laut sebelah barat hingga pantai laut sebelah timur berbatasan dengan Melayu dan Aceh. Kawasan ini sangat padat penduduknya terutama di kawasan pusat dan terdapat sebuah danau yang sangat besar (Danau Toba, pen.) di mana tanahnya subur dan pertaniannya jauh lebih maju daripada di daerah bagian selatan.

Negeri Batak terbagi dalam distrik utama berikut: Angkola, Padang Bolak, Mandailing, Toba, Silindung, dan Singkil, yang terdiri dari tiga kerajaan. Satu di antaranya bernama Simamora yang berada di pedalaman dan terdiri dari sejumlah perkampungan dengan dua kawasan terletak di pantai timur. Kerajaan ini menghasilkan banyak emas. Kota Tinggi merupakan tempat tinggal raja.  Silindung juga terdiri dari banyak distrik yang di antaranya penghasil kemenyan. Kerajaan kecil yang disebut Butar terletak di arah timur laut sampai ke arah pantai timur bernama Pulau Seruni dan Batubara di mana banyak kegiatan perdagangan. Butar tidak menghasilkan kapur barus maupun kemenyan dan emas, sedang penduduknya hidup dari pertanian. Rajanya bertempat tinggal di kota Butar.

Sungai Singkil merupakan sungai terbesar di pantai barat pulau Sumatera yang berasal dari Aceh dan sebelah lagi sampai ke dekat danau yang sangat besar (Danau Toba, pen.). Bagian sungai ini mengaliri Negeri Batak. Sedang Barus berada di bagian selatan yang sangat terkenal dengan kapur barus di negeri timur. Di dekat Barus itu terdapat  8 perkampungan yang dihuni orang Batak. Mereka ini pembeli kapur barus dan kemenyan dari orang-orang di pegunungan Dairi. Teluk Tapanuli ramai dan pantainya di mana-mana telah dihuni manusia. Teluk ini dapat dilayari sebagai kekayaan alam yang memberi  keuntungan bagi pelaut yang dapat mengunjunginya dengan aman di setiap musim.  Kapal-kapal banyak berlabuh di teluk ini, sehingga membuatnya ramai dan padat.

Batak
Manusia Batak lebih pendek dari perawakan orang Melayu. Sifat umum, air muka, rupa dan warna kulit terlihat sedang yang mungkin telah diturunkan dari nenek moyangnya. Pakaian mereka biasanya terbuat dari kain katun sederhana buatan sendiri, tebal, kasar, tetapi kuat. Panjangnya 4 hasta dan dua dipakai di bagian dada yang dililitkan di bagian tengah dengan memakai selendang di bagian pundak. Pakaian ini terdiri dari berbagai campuran warna kecoklatan agak merah dan warna biru yang mendekati hitam. Mereka gemar menghiasinya, terutama selendangnya, dengan rambu-rambu dan jalinan benang. Tutup kepala biasanya terbuat dari kulit kayu, tetapi untuk kalangan kelas tinggi memakai pakaian bergaris warna biru dari luar negeri mirip tiruan destar Melayu, dan sejumlah baju yang bercorak bunga-bunga.

Wanita muda, di samping lilitan kain di bagian tengah, ada juga kain melilit di bagian dada. Memakai sejumlah anting-anting dari timah di telinganya dan juga sejumlah ring tebal yang terbuat dari kuningan dipakai di leher. Pada hari-hari perayaan mereka menghiasi diri mereka dengan anting-anting terbuat dari emas serta jepit rambut, sehingga kepala mereka mirip burung atau ular naga. Memakai sejenis plat dada yang berbentuk tiga kerucut dan memakai gelang berlobang di lengan bagian atas, sehingga semuanya terlihat seperti terbuat dari emas. Kulit kerang kima, yang banyak terdapat di teluk, dibentuk dan dipakai sebagai gelang tangan, sehingga terlihat lebih mengkilat daripada gading.

Senjata mereka adalah senjata lantak, tombak bambu atau tombak dengan ujung-tombak panjang terbuat dari besi, sehingga mereka adalah ahli tempa. Senjata samping disebut ‘jono’, yang mirip dan digunakan sebagai pedang dibanding sebagai keris. Kotak selongsong peluru diperlengkapi dengan sejumlah rak kecil terbuat dari bambu yang masing-masing berisi peluru pengganti. Alat-alat ini dibawa bersama potongan kayu dan ranjau kecil, yang lebih panjang disambungkan dengan bambu.

Mereka memiliki alat yang diukir secara cermat dan dibentuk seperti paruh burung besar untuk mengikat peluru. Sedang lainnya adalah bentuk-bentuk yang aneh untuk tempat cadangan bubuk peluru (mesiu , pen.) tergantung di depan. Di sebelah kanan tergantung batu-api dan besi dan juga cangklong (pipa tembakau). Senjata mereka, pelatuknya terbuat dari tembaga dan peralatan ini diperoleh dari pedagang yang datang dari Minangkabau.  Pedang dibuat sendiri dan membuat sendiri serbuk senjatanya yang diekstrak dari belerang. Di samping itu mereka memakai baju berwarna merah dan putih. Untuk genderang mereka menggunakan gong dan dalam aksinya melakukan teriakan-teriakan perang. Semangat berperang sangat menggebu pada bangsa.

 Mereka mempertahankan kampungnya dengan gundukan tanah yang besar sebagai kubu pertahanan yang di atasnya mereka tanami dengan semak belukar. Ada dibangun sebuah parit tanpa kubu gundukan tanah dan pada setiap sisi terdapat tancapan kayu runcing yang cukup tinggi biasanya dari kayu kemenyan. Di seberangnya ditanami pagar yang tak dapat ditembus terbuat dari bambu berduri yang bila sudah tumbuh membesar memiliki kerapatan yang luarbiasa rapat dan secara sempurna membuat  tampilan sebuah kampung menjadi tersamar secara rahasia.

Penduduk yang bermukim di pesisir pantai memperdagangkan kemenyan, kapur barus, kayu manis untuk dipertukarkan dengan besi, baja, tembaga, dan garam. Semuanya ini mereka barter kepada penduduk pedalaman yang dipertukarkan dengan barang-barang mentah dan barang-barang jadi buatan negeri itu, seperti kain tenunan sendiri. Mereka lebih meminati kain berwarna biru untuk tudung kepala dan kain bahan kursi yang bercorak bunga-bunga.

Makanan yang umum untuk orang-orang kelas bawah adalah jagung dan ubi jalar, sementara para raja dan tokoh-tokoh adalah nasi. Kadangkala mereka mencampur jagung dengan beras. Hanya dalam kesempatan tertentu saja mereka menyembelih ternak untuk makanan.  Sungai-sungai mereka tidak banyak ikannya. Daging kuda merupakan makanan istimewa, karena itu mereka memeliharanya dan memberikan makanan yang baik untuk peliharaan itu. Kuda-kuda terbaik digunakan untuk perayaan-perayaan. Mereka juga memelihara sejenis anjing hitam yang agak kecil dengan telinganya tegak ke atas untuk dimakan setelah gemuk. Mereka sangat gemar minum tuak sebagai minuman pada pesta-pesta.

Akhirnya, bahwa buku The History of Sumatra yang ditulis oleh William Marsden memang perlu dibaca, karena sangat inspiratif dan memberikan laporan yang cukup lengkap tentang Batak dan Negeri Batak pada abad ke-18. Tak kalah pentingnya bahwa orang Batak sudah pandai bertenun dan memakai kain tenun jauh sebelum LI Nommensen datang, sehingga terasa berlebihan bila T.B. Silalahi berkata: “Kalau dulu Apostel Nommensen tidak datang ke sini, mungkin kita orang Batak masih memakai cawat sampai sekarang.”  ***
 
 

ULOS BATAK DALAM PERSPEKTIF KRISTEN

ULOS BATAK DALAM PERSPEKTIF KRISTEN
Oleh: Edward Simanungkalit


Gambaran Umum
Bertenun sudah sejak lama dilakukan oleh orang Batak. Hasil tenunan itu berupa ulos Batak. Ciri Dongson tampak di dalam corak dan pembuatan ulos Batak tersebut dan pendukung budaya Dongson ini dapat menenun kain. Sebagaimana diketahui bahwa para pendukung budaya Dongson berasal dari masa prasejarah, yaitu Neolitik. Mereka ini sudah menggunakan alat-alat perunggu, sehingga disebut juga zaman perunggu (Hutabarat, 2011:1). Kebudayaan Dongson berkembang di Vietnam, Indochina sebagai hasil karya kelompok bangsa Austronesia yang terutama menetap di pesisir Annam  dan Tonkin, yang berkembang antara abad ke-5 hingga abad ke-2 Sebelum Masehi.
Pada zaman dulu  ulos adalah pakaian sehari-hari bagi orang Batak (Toba). Untuk laki-laki, bagian atas disebut “hande-hande” dan bagian bawah disebut “singkot”, sedang penutup kepala disebut “tali-tali” atau “detar”. Untuk perempuan, bagian bawah hingga batas dada disebut “haen” dan untuk penutup punggung disebut “hoba-hoba”. Bila dipakai berupa selendang disebut “ampe-ampe”, sedang yang dipakai sebagai penutup kepala disebut “saong”. Bila perempuan menggendong anak, penutup punggung disebut “hohop-hohop”, sedang alat untuk menggendong disebut’ “parompa” (Pardede, 2005:1).
Jenis-jenis ulos terdiri dari: Ulos Jugia, Ragi Hidup, Ragi Hotang, Sadum, Runjat, Sibolang, Suri-suri Ganjang, Mangiring, Bintang Maratur, Sitoluntuho-Bolean, Jungkit, Lobu-lobu. Masih banyak lagi macam-macam corak dan nama-nama ulos seperti: Ragi Panai, Ragi Hatirangga, Ragi Ambasang, Ragi Sidosdos, Ragi Sampuborna, Ragi Siattar, Ragi Sapot, Ragi si Imput ni Hirik, Ulos Bugis, Ulos Padang Rusa, Ulos Simata, Ulos Happu, Ulos Tukku, Ulos Gipul, Ulos Takkup, dan seterusnya hingga mencapai 57 jenis. (Pardede, 2005:1).
Menurut adat Batak, setiap orang akan menerima minimum 3 macam ulos sejak lahir hingga akhir hayatnya, yang disebut ulos “na marsintuhu” (ulos keharusan) sesuai dengan dalihan na tolu. Pertama diterima sewaktu seseorang baru lahir disebut ulos “parompa” atau dahulu dikenal dengan ulos “paralo-alo tondi”. Yang kedua diterima pada waktu kawin yang disebut ulos “marjabu” bagi kedua pengantin (saat sekarang ini disebut ulos “hela”). Sedang  yang ketiga adalah ulos yang diterima sewaktu dia meninggal dunia disebut ulos “saput” (Pardede, 2005:1).
Ulos Batak dan Kristen
Ulos Batak merupakan produk budaya Batak. Ketika Allah menempatkan manusia di bumi ini, maka manusia secara evolusi mengembangkan perlindungan dirinya terhadap alam, baik itu dengan rumah, pakaian dan lain-lain. Nenek-moyang Batak Toba ada juga berasal dari Dongson yang memiliki kemampuan bertenun, membuat rumah dan lain-lain (bnd. Simanungkalit, dalam BATAK POS, 28/07-2012). Ulos adalah karya-cipta manusia Batak sebagai mahluk budaya, karena kebudayaan itu merupakan respon manusia terhadap Wahyu Umum Allah (Simanungkalit, dalam BATAK POS, 30/09-2012). Di masa lalu sebelum ada kain tekstil modern, ulos dipakai sebagai pakaian oleh orang Batak seperti kain yang dipakai manusia di zaman modern ini. Sehingga, secara prinsip, bahwa ulos itu tidak berbeda dengan kain yang dihasilkan pabrik tekstil zaman sekarang yang dibuat menjadi pakaian.
Ketika disebut bahwa ulos Batak itu sebagai ‘ulos tondi’ ada sebagian orang Kristen memandang ulos menjadi berhubungan dengan soal-soal okultisme. Padahal, itu hanyalah cara pandang secara tradisional, sedang orang Kristen bisa saja mangulosi dengan mengubah cara pandang dan sikap hatinya. Untuk itu harus memandang ulos sebagai sebuah hasil karya-cipta manusia dan mangulosi dilakukan dengan cara pandang di mana ulos sebagai pemberian atau kado. Sedang pemberian kado itu disampaikan dengan sikap hati yang berdoa memohon kepada Tuhan agar memberkati orang yang diulosi. Ini sama saja seperti seorang Kristen yang menghormat bendera dengan sikap hati yang menyembah Allah di dalam Kristus Yesus.
Keadaan di atas diperparah dengan pandangan sebagian orang bahwa di dalam ulos itu melekat kuasa-kuasa gelap, sehingga untuk menyelesaikannya dilakukanlah pembakaran ulos Batak. Akibatnya, sempat ada suatu masa di mana ulos Batak banyak dibakar orang-orang Kristen, bahkan sepertinya dibuat gerakan membakar ulos Batak. Menurut mereka, bahwa keberadaan ulos itu menjadi kutuk bagi orang Batak kalau masih ada disimpan. Sungguh, hal ini merupakan penghancuran budaya apalagi ditambah dengan sikap memusuhi kebudayaan dan adat Batak.
Orang Kristen tidak perlu melenyapkan ulos Batak, karena ulos itu sama dengan kain lainnya yang dibuat menjadi pakaian. Kalau ingin konsisten memakai cara bakar-membakar, maka kain dan pakaian buatan Jepang mestinya dibakar jugalah semuanya, karena produk-produk Jepang mirip seperti itu. Produk-produk Jepang setelah selesai diproduksi dari pabrik dan mau dikirim untuk dijual tidaklah mustahil  mereka doakan. Sesuai dengan agamanya, maka tentulah mereka berdoa memohon kepada Dewa Matahari untuk memberkatinya. Apakah juga semua produk-produk Jepang ini dibakar oleh mereka? Bagaimana dengan rumah yang dibangun dengan menggunakan batu dan kayu? Barangkali batu dan kayu itu dulunya merupakan tempat penyembahan berhala. Apakah rumah itu turut juga dibakar? Pertanyaan ini perlu dikemukakan kalau mau konsisten sesuai dengan sikap terhadap ulos Batak tadi, sehingga jangan hanya ulos Batak yang dibakar.
Di dalam Kristus, bahwa orang percaya adalah orang merdeka dan tidak berada di bawah penindasan roh-roh dunia. Nama Yesus, darah Yesus, firman Allah, dan Roh Kudus memampukan orang percaya untuk menghadapinya dan menyelesaikannya. Di atas dasar firman Allah, orang percaya memohon pengudusan ulos Batak dengan darah Yesus di dalam nama Yesus, maka Allah melalui Roh Kudus melakukan pengudusan itu. Dosa, maut, dan kuasa-kuasa gelap ini telah dikalahkan Yesus di kayu salib pada dua ribu tahun lalu. Darah Yesus berkuasa menyucikan segala dosa (1 Yoh. 1:7, 9) dan menguduskan segalanya dari kuasa-kuasa gelap, sehingga tidak perlu lagi harus membakar ulos Batak beserta  semua yang disebutkan tadi. Oleh kuasa darah Yesus, maka semua benda itu dapat dikuduskan dan dapat dipakai oleh orang percaya tanpa perlu takut akan ada sesuatu yang mengganggunya.
Akhirnya, kerangka dasar theologi harus dapat menjadi dasar yang kuat dan luas dalam memandang dunia ini serta segala sesuatu yang ada di dalamnya, sehingga dapat melihat kebudayaan dalam cara pandang Allah. Penulis telah membicarakan hal ini melalui tulisan berjudul: “KEBUDAYAAN DAN ADAT BATAK DALAM PERSPEKTIF KRISTEN” (BATAK POS, 30/09-2012). Budaya Batak dan Adat Batak bukanlah untuk dihancurkan, karena menghancurkannya dapat menimbulkan keguncangan di dalam masyarakat Batak. Pembakaran kitab-kitab sihir di dalam Kisah Para Rasul 19:19 bukanlah perintah atau ajaran/doktrin, tetapi bersifat insidentil agar isinya tidak dapat dipelajari lagi untuk melakukan sihir. Oleh karena bukan perintah atau ajaran/doktrin, maka tidak dapat dijadikan untuk melegitimasi pembakaran ulos Batak. Ulos bukan untuk dibakar habis atau dimusnahkan, tetapi patut dipertahankan bahkan dikembangkan sebagai kekayaan budaya Batak dan dipergunakan bagi kemuliaan Allah. ***

KEBUDAYAAN DAN ADAT BATAK DALAM PERSPEKTIF KRISTEN

Menyusuri Ulos Batak, Berkelana dengan Sandra (X)

Menyusuri Ulos Batak, Berkelana dengan Sandra (X)
by Mja Nashir on Monday, 30 May 2011 at 13:10 ·
YANG ADA, YANG TIADA, YANG TERSISA - (Sebuah tulisan perjalanan - Bagian Kesepuluh)

        Siang 23 Juni 2010, akhirnya kami sampai ke Hutagalung, kampung yang di jaman dulunya terkenal dengan ulos Ragidup. Di tahun 80-an Sandra pernah tinggal di huta ini selama 8 bulan. Dan siang ini pula kami masih di temani oleh Linda Hutagalung, seseorang wanita yang sangat berjasa besar bagi Sandra di masa lalu dalam melakukan penelitian ulos Batak di kawasan Tarutung yang telah menjadi pelengkap dari karya bukunya, “Legacy in Cloth – Batak Textiles of Indonesia” (KITLV Press Leiden, 2009).

        Yang ingin dijumpai oleh Sandra pertama kali ketika menginjakkan kaki kembali di Hutagalung ini adalah tetangga dekatnya. Nai Ratna namanya. Dulu sering menenun ulos Ragidup. Mobil kami berhenti di depan sebuah rumah kayu yang pintunya terbuka. Sandra langsung masuk ke dalam rumah. Seorang nenek yang rambutnya memutih sedang bersantai bersama cucu di ruang tengah menonton TV. Inilah Nai Ratna.  Beliau masih ingat Sandra.  Seketika tangannya meraih tangan Sandra yang mengulurkan jabat tangan padanya. Senyum menyembul dari wajah Nai Ratna, menjadi lompatan flashback ke tahun 1986 ketika Sandra memotret Nai Ratna yang tersenyum berdiri di depan rumah ini sembari menunjukkan ulos Ragidupnya. Foto itu kini menjadi halaman 157 dari buku Sandra, Legacy in Cloth.

             Pertemuan kembali membahagiakan hati Nai Ratna. Nai Ratna mempersilakan kami duduk. Anak perempuannya yang Sandra kenal, Mona, keluar dari dalam ikut menemui kami. Kepada Nai Ratna Sandra menyerahkan buku atas nama Tomas Murray, seseorang yang telah membantu Sandra agar buku ini bisa sampai ke tangan Nai Ratna.  Mamak dan anak ini senang sekali menerima buku Sandra. Melewati buku itu kulihat Nai Ratna tenggelam ke dalam masa lalu di saat beliau masih aktif menenun. Kurasakan ada perasaan yang bercampur aduk. Perasaan senang. Juga perasaan sedih. Perasaan senang karena kini bisa kembali melihat dirinya yang tentu lebih muda dibanding saat ini selain juga perasaan tentang kebanggaan akan talentanya di masa lalu dalam bertenun ulos.  Perasaan sedih bisa kumengerti karena barangkali kini beliau sudah lama tidak menenun lagi.

       Menenun di sebagian besar masyarakat Batak sudah lama identik dengan kesulitan hidup. Dan kini di rumah Nai Ratna sudah tidak ada lagi kegiatan menenun. Berganti menjadi industri rumah tangga yang memproduksi tahu yang dikelola oleh anak dan menantunya. Kami diajak berkeliling di ruangan samping rumah. Kulihat orang-orang sedang bekerja mengolah tahu di bilik rumah kayu ini.  Menurut Linda, tahu produksi rumah Nai Ratna termasuk salah satu yang maju di kawasan lembah Silindung, Tarutung ini.

        Meskipun sekarang telah berubah menjadi tahu tapi aku yakin pengetahuan ulos masih dimiliki secara baik oleh seorang Nai Ratna. Barangkali beliau sudah tidak kuat untuk menenun seperti dulu lagi. Barangkali pula membuat tahu lebih menguntungkan.  Yang jelas Sandra senang atas pertemuan kembali dengan Nai Ratna. Bagaimanapun Nai Ratna telah menjadi catatan yang penting bagi sejarah tenun Silindung-Tarutung di masa yang silam.  “Saya masih ingat dulu jika bertenun Nai Ratna selalu dibantu dua orang anak perempuannya. Mereka dulu bertenun setiap hari pulang sekolah, bertenun bagian pertengahan Ragidup. Mamaknya yang bertenun sisi (kanan kiri) Ragidup,” kenang Sandra tentang Nai Ratna ini.

        Dari depan rumah Nai Ratna tidak tampak oleh kami di mana Pak Jerry. Hanya mobilnya saja yang kelihatan. Kami cari-cari dan ternyata dia sedang jongkok di kali kecil di depan rumah Nai Ratna yang mengalir air jernih. Di balik mobil ini dia sedang membersihkan bagian belakang mobil yang semula penuh lumpur dan tanah lantaran sebelumnya terperosok ke parit. Kini sudah bersih kembali. Pak Jerry selalu menjaga kebersihan dengan baik. Kini bersama Pak Jerry dan dengan mobilnya kami siap melanjutkan perjalanan kembali. 

        Kami masih berada di perkampungan Hutagalung untuk menemui penenun lainnya lagi, yaitu Nai Arta.  Dari luar rumah terasa suasana tenang dan damai. Melewati pintu samping rumah, Linda mengajak kami untuk langsung masuk. Di dalam rumah, di atas lantainya tampak Nai Arta sedang khusyuk menenun ulos Ragidup. Bertahun-tahun Nai Arta menenun tiada henti meskipun dirinya kini sudah tua. Kulihat sebuah sarung menyelimuti kakinya yang renta yang membujur di atas lantai. Sarung itu kurasa untuk menghangatkan kakinya dari dingin lantai. Kedua kakinya itulah yang sejak dulu selalu mengontrol tingkat ketegangan dan kerapatan tenunannya.

        Sosok Nai Arta menyiratkan pribadi yang tenang dan sabar. Bertekun dalam bertenun. Menurut ingatan Sandra, dulu di saat Sandra pernah ke Nai Arta, rumah ini belum ada listrik. Namun beliau menenun sampai malam dengan penerangan lampu minyak. Saat itu Nai Arta sering merasa bermasalah dengan matanya. Kini Sandra merasa senang di saat kembali lagi kemari Nai Arta sudah mengenakan kaca mata. Dan dia masih tetap menenun.

       Sandra menunjukkan bukunya kepada Nai Arta pada halaman di mana ada foto dirinya yang sedang menenun Ragidup Sisabulung. Tangan kanan Nai Arta membenahi posisi kacamata dan memperhatikan halaman itu dengan seksama dengan senyum di bibirnya. Di balik kacamata, cahaya berkilatan di kedua bola matanya. Kemudian Sandra membacakan kata-kata yang tertoreh di halaman depan dari Professor Shuichi Nagata (University of Toronto) yang telah membimbing Sandra untuk gelar Master –nya. Professor ini pulalah yang membantu Sandra agar buku Legacy ini bisa sampai ke tangan Nai Arta. Kata-kata dari professor itu bunyinya “untuk matamu, semoga sehat selalu”. Untaian kata yang dibacakan kembali oleh Sandra ini begitu menyentuh hati Nai Arta. Ada perasaan haru yang membahagiakan dan membanggakan yang terbersit pada dirinya bahwa ternyata ada orang-orang yang sangat menghargai dirinya, menghargai perjuangan dan ketekunannya dalam berkarya tenun. Dan perasaan bahagia pun terona pada wajah Sandra.

       Demikian Sandra akhirnya menyerahkan bukunya kepada Nai Arta. Kulihat anak perempuan Nai Arta juga senang atas kedatangan Sandra dan kami. Dia mempersilakan kami di rumah ini dengan perjamuan yang hangat. Kendati demikian kami tak bisa berlama di sini. Kami harus melanjutkan perjalanan lagi.

        Meluncur kembali kami di kawasan Hutagalung yang terdiri dari banyak kampung ini. Ke tempat yang lumayan jauh dari tempat Nai Arta tadi. Mobil kami berhenti di pelataran luas yang dikelilingi rumah-rumah kayu. Rumah-rumah yang sejak dulu ketika Sandra masih berada di huta ini masih tampak sama. Juga pada pelataran ini. Pemandangan yang seringkali dilihat Sandra dan selalu ada dalam kenangannya saat-saat panen telah tiba. Pada pelataran luas ini padi sedang dijemur.  Kulihat Sandra senang. Dia seperti kembali lagi ke masa lalunya di Hutagalung ini.

        Ia memang sedang kembali. Kulihat kaki-kakinya melangkah ke sebuah rumah yang asri dan bersih bersama Linda. Mereka langsung masuk melewati pintu samping yang terbuka karena pintu depan tertutup rapat. Keduanya sudah akrab dengan rumah ini. Aku pun mengikuti mereka memasuki pintu samping yang menghubungkan ruang belakang. Ada seorang nenek dan kakek di dalamnya. Seorang nenek yang kondisi kesehatannya kurang baik, seperti sedang sakit dengan wajah tuanya yang pucat. Mengenakan syal yang menutup rapat lehernya. Linda menyapanya. Nenek itu kenal dengan Linda. Dari dalam ruangan yang remang-remang itu dia mencoba melihat ke arah Sandra. Dia seperti berusaha keras mengingat-ingat.  Mungkin karena sudah tua dan juga karena kesehatannya yang kurang baik dia agak sulit untuk mengenali Sandra. Lalu nenek itu mengajak kami ke ruangan depan melalui ruang makan di mana seorang kakek sedang makan siang. Kakek ini suaminya. Kulihat kakek ini sembari makan berucap lirih berulang-ulang, “Sandy..Sandy”. Dan langkah-langkah kaki nenek yang berkaos kaki tebal dan bersendal jepit ini seperti sudah berat sekali di atas lantai rumah.  Tubuh tua ini seperti sulit menyeret kaki-kakinya.  Namun dia berusaha keras untuk berjalan.  Sampai akhirnya kini kami berada di ruang tengah di mana cahayanya lebih terang karena sinar matahari mampu masuk lebih leluasa dari jendela-jendela yang terbuka.  Dan kedua mata nenek ini juga kulihat kini terang seperti terang yang terpancar dari jiwanya.  Seketika kulihat nenek ini seperti berusaha menahan tangis ketika kini sadar bahwa yang berada di hadapannya adalah Sandra. Begitu juga kulihat Sandra. Perasan-perasaan yang ternyata tak bisa untuk ditahan-tahan lagi. Keduanya saling berpelukan. “Sandy..oh Sandy”, demikian kudengar suara dari nenek itu ketika memeluk Sandra. Keempat mata yang saling berpelukan itu berkaca-kaca. Aku merasakan keduanya seperti ibu dan anak yang telah lama tak bertemu.

        Nenek ini adalah Nai Ganda yang bagi Sandra peranannya juga berlipat ganda. Selama masa-masa penelitian Sandra di Tarutung ini, beliau bukan hanya seorang penenun tapi juga orang yang telah membimbing Sandra karena kehangatan hati dan jiwanya yang telah membukakan pintunya kepada Sandra sehingga kapan saja Sandra boleh datang dan bertanya tentang segala macam hal berkaitan dengan dunia ulos yang ingin Sandra tanyakan atau yang belum dia ketahui. Pendeknya ia selalu terbuka untuk memberi informasi, untuk berdiskusi tentang tenun. Sehingga kurasakan pada rumah ini jejak-jejak Sandra di masa lalu sangat kuat sekali. Sampai akhirnya dari Nai Ganda ini aku dapati foto masa lalu Sandra bersamanya di saat-saat dia sedang tekun mendengarkan dan mencatat segala informasi dari Nai Ganda di meja ruang

tengah ini. Sandra sendiri pun tidak memiliki foto ini sehingga akhirnya foto lama ini aku foto kembali agar ada kopinya lagi. Nai Ganda memang orang yang sangat cerdas, tekun dan rajin serta punya disiplin yang tinggi. Dia selalu menyimpan baik segala dokumentasi yang penting tentang Sandra, termasuk surat-surat dari Sandra dari Belanda di masa-masa silam dan juga buku-buku karya Sandra era sebelum Legacy in Cloth. Semuanya ia simpan dengan baik. Menjadi kebanggaan yang berharga bagi dirinya. Demikian pula atas buku Legacy in Cloth yang diserahkan oleh Sandra kepada Nai Ganda ini atas nama mamaknya sendiri - Norma Niessen - yang telah membantu Sandra agar buku ini sampai ke tangan Nai Ganda dengan baik.  Nai Ganda menerimanya dengan perasaan suka cita dan bangga.

        Di ruang tengah ini Sandra, Nai Ganda, aku dan suaminya duduk bersama dalam satu lingkaran. Kurasakan rumah yang semula sepi dan tenang sebelum kami datang ini kini seperti penuh dengan energi yang begitu kuat dari sosok Nai Ganda. Entah kenapa aku begitu terkesima dengan pesona Nai Ganda ini. Tiap helai gerakannya selalu merebut perhatianku dengan sendirinya. Seolah kedua mataku ini tak ingin aku pejamkan walau sedetik pun untuk melihat Nai Ganda. Aku merasakan dia adalah seorang tokoh besar. Begitu yang terucap dari hatiku akannya.

        Di meja ini oleh Sandra halaman-halaman Legacy In Cloth dibuka di hadapan Nai Ganda dengan gambar-gambar dan keterangan-keterangan tentang Nai Ganda. Dari lembar-lembar buku tebal itu tampak bahwa Nai Ganda dulunya memang adalah seorang penenun hebat untuk jenis ikat.  Pada halaman-halaman ini tampak Nai Ganda sedang bekerja dengan ekspresi yang selalu segar, ceria dan tak menampakkan secuilpun dari rasa keluh. Pribadi yang total dalam bekerja dan berkarya. Melihat halaman-halaman itu Nai Ganda tersipu serasa bilang pada kami bahwa kini dirinya sudah tua. Namun kurasakan kekuatan-kekuatannya itu masih tersisa. Tangan-tangannya masih sedemikian hidup. Tangan-tangannya itu kini mengabarkan padaku tentang bagaimana dia dulu bekerja mencipta tenun-tenun ikat karyanya.

        Nai Ganda  meperlihatkan kembali pada kami koleksi-koleksi kain karyanya. Aku suka sekali karya-karya tenun ikat Nai Ganda ini. Meski ada terasa sentuhan modernnya namun spirit tradisinya masih sangat kuat. Beberapa di antara kain itu ada yang Nai Ganda menciptakan motif-motif sendiri yang diinspirasi gorga (ukiran-ukiran atau ornamen pada rumah-rumah Batak) yang telah menancap di kepalanya sejak dia masih kanak-kanak. Jadi bagiku dia bukan hanya memperbanyak atau memproduksi ulos yang sudah ada, tapi juga mencipta kreasi yang baru tanpa harus meninggalkan akarnya.

        Siang ini kami lama bercengkrama di ruang tengah ini. Sampai tak terasa waktu yang mengharuskan kami beranjak dari rumah ini oleh karena masih ada janji dengan Ompu Lambok di pasar Horas Tarutung di samping masih panjang perjalanan Sandra dalam Pulang Kampung nya ini. Begitulah akhirnya kami berpamitan pada Nai Ganda dan suaminya, meninggalkan rumah mereka. Meskipun sesungguhnya kami tidak pernah bosan dengan kehangatan Nai Ganda.

        Selama perjalanan kembali ke arah kota Tarutung, fikiranku sulit untuk melupakan pengalaman bertemu dengan Nai Ganda. Sandra menuturkan kembali padaku tentang Nai Ganda, ”Nai Ganda sejak dulu tahu banyak tentang tenun Batak. Oleh sebab itu, saya sering ke rumah Nai Ganda. Dulu hidup Nai Ganda cukup susah. Saya sering menjumpai Nai Ganda memasak atau menggoreng ketela. Kami minum teh bersama dan makan ketela itu. Aduh, saya suka itu. Namun Nai Ganda selalu bersemangat. Dia banyak anaknya. Suaminya saat-saat itu sering kesulitan mendapatkan pekerjaan. Jadi, Nai Ganda lah yang sering menjaga stabilitas ekonomi di keluarga. Kain Batak menjadi hidup keluarga ini, sumber daya dan pembuka bagi kreativitas Nai Ganda. Dia wanita yang sangat pintar. Dibanding para penenun di Tarutung lainnya dia tahu jauh lebih banyak. Dulu dia belajar dari mertuanya - dari mamak suaminya. Nai Ganda masih ingat semua. Kuat ingatannya. Seperti saya selalu bisa ke beliau kalau ada pertanyaan. Dan beliau selalu tahu menjawabnya. Dia selalu bilang padaku, ada pertanyaan lain? Saya akan selalu tahu menjawab. Begitulah Nai Ganda.”

                                                         ***

        Siang ini kami telusuri kembali pasar Horas Tarutung untuk menjumpai Ompu Lambok yang telah kami datangi tadi pagi. Oleh karena Ompu Lambok ingin memberi kenang-kenangan pada Sandra dengan ulos yang baik dari koleksinya. Melewati pintu pasar langkah kami kini berada di lorong los ulos yang sepi. Banyak sekali ulos di los ini didisplay di tiap-tiap kios yang berjejeran ini. Ulos-ulos dalam aneka ragam dan warna. Semuanya itu dijual. Tapi tak kulihat para pembeli. Sepi sekali. Sesepi para penjualnya yang akhirnya memilih tertidur di antara tumpukan ulos-ulos itu. Aku terhenti di depan kios-kios yang para penjualnya tertidur ini dan mebiarkan Sandra dan Linda meninggalkanku untuk menuju ke kios Ompu Lambok. Aku masih terus berpikir kenapa bisa terjadi semacam ini. Kenapa ulos menjadi sebuah dunia yang begitu sepi.

Sehingga para penjualnya pun memilih untuk tidur seolah lebih baik bermimpi. Apakah dalam mimpi para penjual ulos ini mereka sedang melayani pembeli yang ramai sekali? Atau jangan-jangan mereka sedang bermimpi di mana mereka bukanlah penjual ulos lagi? Namun di saat bangun dari mimpi mereka toh akan mendapati kenyataan bahwa mereka adalah penjual ulos. Aku yakin pak Presiden pun tidak pernah melihat kenyataan seperti yang kulihat ini.

         Aku pun sadar tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaanku sendiri yang tiba-tiba bermunculan di kepalaku ini. Akhirnya kulangkahkan kakiku ke kios Ompu Lambok di mana Ompu Lambok sedang mengulosi Sandra dengan sebuah ulos warna ros.  Dengan sigap, dengan kameraku, aku segera mengabadikan peristiwa bersejarah bagi Ompu Lambok dan Sandra ini. Namun jujur, di saat ini pula sebenarnya aku tak bisa mengapresiasi peristiwa ini dengan baik. Mungkin karena kepalaku sedang dipenuhi oleh kenyataan yang baru saja aku saksikan, sebuah dunia ulos yang sepi.

        Perasaan sepi ini seperti juga terukir di wajah tua seorang nenek di pintu pasar saat langkah-langkah kami meninggalkan los ulos itu. Seorang nenek dengan tutup kepala yang khas cara Batak itu sedang duduk diam di antara barang dagangannya berupa cabe-cabe merah. Namun sepi. Matanya nanar memandang ke arahku. Meskipun dari sorot matanya aku masih bisa merasakan kedalaman hatinya. Memandangi orang tua ini rasanya aku seperti memandangi kembali ulos-ulos.  Sepi. Meskipun sesungguhnya aku tahu persis bahwa sepi juga bukan berarti kosong.

                                                       ***

        Siang yang sudah menjelang sore kami makan bersama di restauran Linda.  Kami semua lahap makan karena lapar yang sedemikian hebat. Apalagi juga karena masakan restauran Linda ini begitu nikmat. Suasana kekeluargaannya pun hangat. Sesekali kulihat kecipak ikan pada permukaan kolam di sekitar kami membuat suasana yang terasa alami.

        Agenda kami setelah ini sebenarnya sudah agak longgar mengingat tujuan Sandra di Tarutung sudah cukup. Selanjutnya adalah menemui orang-orang dari masa lalu yang berada di antara garis Tarutung - Parapat. Memang masih banyak orang serta tujuan yang ingin ditemui Sandra untuk menyampaikan bukunya ini. Namun mengingat waktu, untuk sore ini hanya dua saja yang akan ditemui, selanjutnya bisa diteruskan lagi besok hari. Dua tujuan itu berada di daerah Siborong Borong. Kebetulan hari ini pula Linda akan kembali ke Parapat. Linda sudah lama tinggal di Parapat. Beberapa hari sekali dia selalu pulang pergi antara Parapat-Tarutung (dan sebaliknya) selama menangani usahanya di sini. Sementara di Parapat selain rumah tinggal juga dia punya usaha bisnis di sana. Semula rencana Linda bersama ke dua anaknya akan naik bus untuk pulang ke Parapat. Namun Sandra tidak ingin membiarkan Linda dengan anak-anaknya di bus dalam perjalanan yang lumayan panjang dan melelahkan itu. Apalagi hari ini rasanya Linda sudah banyak menolong Sandra, menolong kami semua. Jika tak ada kami, mungkin Linda dari pagi sudah kembali ke Parapat dan pasti sudah sampai Parapat saat ini. Jadi kami sudah banyak makan waktu Linda dan anak-anaknya. Ah, rasanya tak mungkin kami tega membiarkan Linda yang baik hati di hari yang sudah mulai sore ini naik bus dan nyampai di Parapat pasti sudah malam sekali. Apalagi naik bus tentu memakan waktu lebih lama dari pada naik kendaraan pribadi. Jadi lebih baik Linda dan anak-anaknya bersama kami, bersama pak Jerry di mobil kami.

        Begitulah, setelah menyelesaikan makan kami semua berkemas-kemas untuk melanjutkan perjalanan. Sandra, Linda dan Siska, anaknya yang paling besar duduk di belakang. Sementara anak Linda yang bungsu, Reinhard duduk bersamaku di depan, di antara aku dan Pak Jerry. Mobil kami pun akhirnya meninggalkan halaman restoran menuju arah Parapat.

        Selama perjalanan, di belakang Sandra dan Linda saling bercerita. Keduanya pasti teringat kembali di saat-saat dulu mereka sering juga melewati jalan ini.  Sesekali untuk menyemarakkan suasana pak Jerry  sambil mengemudi juga menambahi dengan cerita-cerita lucu. Namun kadang-kadang di titik-titik tertentu di sepanjang jalanan yang kami lewati ia bercerita pula tentang kisah-kisah hantu seperti dia hafal betul titik-titik itu. Kami asyik saja menikmati cerita-cerita Pak Jerry ini sampai tak terasa kami telah memasuki daerah Siborongborong.

        Sandra berniat menjumpai seseorang di Lumban Pisang namun dia juga ingin menyampaikan bukunya ke Perpustakaan Universitas Sisingamangadja XII di Silangit Siborongborong. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 4 sore. Dia memutuskan untuk secepatnya menuju universitas Sisingamangaraja dulu supaya tidak keburu tutup. Pak Jerry tancap gas memacu mobil menuju Silangit dan lansung masuk ke halaman kampus ini. Sandra, Linda dan aku keluar dari mobil, bergegas ke ruang perpustakaan.

        Seperti sudah menjadi kebiasaan umum di mana-mana jika urusan menyangkut suatu kantor atau instansi seringkali cukup menguras energi dan kesabaran. Dari satu meja ke meja lain. Dari satu petugas ke petugas lain.  Begitulah akhirnya kami pun masuk dari satu ruangan bertemu dengan seseorang yang akhirnya mengarahkan agar kami menuju ruangan sebelahnya lagi. Dan di ruangan ini pun petugasnya masih sempat bilang bahwa petugas yang sesungguhnya untuk keperluan semacam Sandra ini sedang tidak berada di tempat. Aduh, kapan Indonesia akan maju, dalam hatiku. Bukannya mereka semestinya menyambut dengan senang dan hangat kedatangan Sandra ini. Apalagi tujuan Sandra kemari untuk menyerahkan buku karyanya yang ditulis selama puluhan tahun tentang ulos Batak kepada salah satu kampus di tano Batak ini.  Ketika buku ini sudah diterima pun, petugas tidak segera menuliskan tanda terima. Akhirnya kuberanikan diri bilang pada petugas tadi agar Sandra diberi tanda terima dari Perpustakaan kampus ini.

        Sandra merupakan penulis yang punya hati nurani, dia sempatkan waktunya kemari karena banyak permintaan akan bukunya dari para mahasiswa yang ada di Indonesia yang dikirimkan ke alamat email atau websitenya. Salah satunya adalah mahasiswa dari kampus ini.  Dengan penyerahan Legacy ini Sandra berharap agar bukunya bisa dibaca oleh para mahasiswa di kampus ini.

        Dari kampus kami balik arah lagi ke jalan semula kami lewati menuju Lumban Pisang Kecamatan Siborongborong. Dari pinggir jalan mobil kami memasuki pekarangan luas yang dipenuhi aneka bunga di taman. Disinilah tempat bernama Persekutuan Diakonia


 Pelangi Kasih (PDPK). Di tempat ini Sandra ingin menjumpai seseorang yang bagi Sandra pernah berjasa besar padanya. Ibu Nuria Gultom namanya, salah satu pendiri diakones ini.  Atas kebaikan hatinya saat masih menjabat sebagai pimpinan sekolah diakones Balige beliau banyak membantu Sandra selama Sandra tinggal di asrama diakones Balige tersebut di sekitar 1979-1980. Selain itu beliau pernah menghadiahi Sandra ulos Pinunsaan Jogia yang sangat berharga yang turut melengkapi buku Sandra, Legacy in Cloth. Lewat penyerahan Legacy kepada beliau, Sandra ingin mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya.  “Melalui buku ini saya ingin menyampaikan pada beliau bagaimana saya menghargai dirinya, hadiahnya, budayanya, juga kepercayaannya pada saya,” ujar Sandra


                                                                  ***

        Kedua mataku kini terbuka dalam remang cahaya-cahaya lampu jalanan yang menari-nari bersama wiper mobil yang bergerak-gerak ke kanan ke kiri. Hujan membasahi kota Parapat. Linda dan Sandra pun terbangun. Kulihat kedua anak Linda masih tertidur. Dari tempat duduknya Linda mengarahkan pak Jerry pada jalan-jalan kecil menuju ke rumahnya. Jalan di tepi danau Toba yang menghubungkan Ajibata kami lewati. Sebelum sampai dermaga kami belok kiri. Memasuki areal perumahan sampailah kami di rumah Linda. Pada saat itu pula pintu pagar rumah Linda yang semula tertutup kini terbuka. Suaminya muncul dan membantu Linda mengangkat anak bungsunya yang masih tertidur ke dalam rumah. Hujan belum juga reda. Dingin angin danau menerpa tubuhku. Kami semua akhirnya masuk ke rumah. Begitu pula Pak Jerry.

        Di dalam rumah ini kami merasa lebih hangat. Suami Linda, Pangabahan Situmeang bersama kami. Linda menghidangkan minuman hangat membuat tubuh kami segar kembali. Di dalam ruangan rumah yang bertingkat yang bersih dan rapi ini kulihat banyak barang-barang konveksi di sini. Inilah salah satu usaha Linda bersama suaminya selain restauran di Tarutung itu. Dan usaha konveksinya ini menjadi salah satu pemasok besar untuk segala cinderamata yang berbau Danau Toba. Dari kaos, syal, batik-batik, topi, tas dan segala macam. Rasanya semuanya lengkap di sini. Dari sini pula barang-barang ini dipasok ke kios-kios cinderamata di sekitar tepi danau Toba baik di Parapat ini maupun Samosir. Suami Linda pun bersemangat bercerita tentang usahanya. Tampak Sandra senang sekali melihat keadaan rumah Linda. Turut bangga melihat kesuksesan Linda dan keluarganya ini.

        Hujan mulai reda, malam mulai larut. Kami akhirnya berpamitan pada Linda dan suaminya. Linda beserta suami berterimakasih atas kebaikan hati Sandra karena telah mengantar dari Tarutung sampai ke rumahnya. Begitu juga sebaliknya Sandra menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Linda atas pertolongannya hari ini.

        Linda dan Sandra, antar keduanya memang sudah bukan siapa-siapa. Mereka sudah seperti keluarga, kakak beradik.  Saling menolong diantara mereka juga bukan hanya hari ini.  Saling tidak ada pamrih apa-apa.  Sejak pertamakali bertemu dengan Linda di Hutagalung pada 1986, sejak Linda masih seorang wanita desa sederhana yang sedang menjemur padi di pelataran rumahnya, sejak saat itu pula Sandra telah memilih temannya, sahabatnya, keluarganya sendiri untuk selama-lamanya.

                                                           




Jumat, 01 November 2013

umpasa batak toba

Asa, danggur-dangur barat ma tongon tu duhut-duhut
Nunga butong hita mangan, mahap marlompan juhut,
Ba haroan ni ulaonta on, dipaboa amanta suhut.

Atau: Ba, dia ma langkatna, dia unokna
Dia ma hatana, dia nidokna,
Haroan ni ulaonta on,
Tung tangkas ma dipaboa amanta suhut

Alusna mamboan sipanganon :
Bagot na marhalto ma na tubu di robean
Ba horas ma hamu na manganhon, tu gandana ma di hami na mangalean
Ekstra:
Taringot di sipanganon na hupasahat hami rajanami
Molo tung na mangholit hami, sai ganda ma na hinolit tu joloansa on

Dan ditutup dengan:
Anggo sintuhu ni sipanganon masak na hupasahat hami
Ba, panggabean, parhorasan do rajanami (tu hula-hula); tu hamu raja ni haha-anggi

(bila makanan itu untuk kawula yang berkakak-adik)
Sambungan sapaan-pertanyaan dari si penerima makanan:
Dimulai lagi dengan kata basi-basi, dan disambung dengan:

Antong raja ni ……….; Asa tangkas ma uju Purba, tangkasan uju Angkola
Asa tangkas hita maduma, tangkasan hita mamora.
Jadi, asa songon hata ni natua-tua do dohonon:
Siangkup ninna, songon na hundul, jala siudur songon na mardalan
Ba, angkup ni angka na uli na denggan, tung tungkas ma dipaboa amanta suhut,
Asa adong sibegeon ni pinggol, sipeopon ni roha.      
Jawaban penutup:
I ma tutu rajanami, nunga apala dipadua hali raja i manungkun
Ba saonari, tung tangkas ma antong paboaonnami:
Anggo siangkupna dohot sidonganna rajanami, ima:……..
(dia ceritakan secara singkat dalam bentuk prosa, maksud tujuan acara adat itu)
2. Umpama dalam berbagai perhelatan, yang memintakan berkat:
- Perkawinan (kepada penganten)— Biasanya umpama ini harus disampaikan dengan jumlah ganjil; mis: satu, tiga, lima, tujuh dsb.
Di zaman modern ini di perantauan (karena soal faktor keterbatasan waktu), terutama bagi generasi muda, boleh saja mengucapkan hanya satu saja. Kalau mampu menghafalnya, boleh sampai tiga umpama:
Contoh:
  • Bintang na rimiris ma, tu ombun na sumorop Asa anak pe antong di hamu riris, boru pe antong torop.
  • Tubuan laklak ma, tubuan sikkoru di dolok ni Purbatua Sai tubuan anak, tubuan boru ma hamu, donganmu sarimatua.
  • Pir ma pongki, bahul-bahul pansalongan Sai pir ma tondimuna, jala tongtong hamu masihaholongan.
  • Pinantik hujur tu jolo ni tapian ,Tusi hamu mangalangka, tusi ma dapot parsaulian.
  • Pangkat-hotang.Tu dia hamu mangalangka, tusi ma dapot pangomoan
  • Tangki jala hualang, garinggang jala garege
  • Tubuan anak ma hamu, partahi jala ulubalang
  • Tubuan boru par-mas jala pareme.
  • Tubu ma hariara, di tonga-tonga ni huta
  • Sai tubu ma anak dohot borumu
  • Na mora jala na martua

Kalau “umpama” diucapkan (disampaikan) hanya satu (single) di antara umpama di atas, tak tak perlu ada umpama penutup. Tapi kalau menyampaikan dua atau empat, atau bahkan enam, sebaiknya ditutup dengan umpama pembuat jumlah-ganjil berikut:
Asa, sahat-sahat ni solu ma, sahat tu bontean
Sai sahat ma hita on sude mangolu,
Sahat ma tu parhorasan, sahat tu panggabean.

Bila kita harus menyampaikan ULOS PANSAMOT (kepada orangtua penganten laki-laki) atau kepada besan kita: beberapa umpama yang relevan antara lain adalah:
1)     Andor halukka ma patogu-togu lombu, Saur ma hamu matua, patogu-togu pahompu
2)     Eme sitamba-tua ma parlinggoman ni siborok, Tuhanta Debata do silehon tua, sude ma hita on diparorot
3)     Tubu ma dingin-dingin di tonga-tonga ni huta, Saur ma hita madingin, tumangkas hita mamora

Umpama di atas, dapat pula dipakai untuk memberikan kata berkat/pasu-pasu kepada pihak lain, termasuk dalam bentuk acara “selamatan” lain-lain; dan tentu saja sebaiknya ditutup dengan ”Sahat-sahat ni solu……dst.”.
Tuntunan dari pihak  Hula-hula kepada pihak boru, karena menerima permintaan bimbingan (paniroion) terhadap pembicaraan pihak-suhut dengan pihak besan-nya:
Lebih dahulu mengucapkan kata basa-basi tuntunan secara “prosa”, dan diakhiri dengan puisi (umpama) berikut:

Asa balintang ma pagabe, tumundalhon sitadoan; Arimuna ma gabe, ai nunga hamu masipaolo-oloan.

Mangampu (mengucapkan kata sambutan terimakasih) terhadap kata-kata ucapan syukur dari pihak hula-hula, atau pihak lain untuk kita:
Setelah mengucapkan kata-kata mangampu secara “prosa”, maka diakahiri dengan puisi (umpama) berikut:
1)     Asa turtu ma ninna anduhur, tio ninna lote; Sude hata na denggan, hata nauli na pinasahatmuna i sai unang ma muba, unang ma mose.
2)     Tingko ma inggir-inggir, bulungna i rata-rata; Di angka pasu-pasu na nipinasahatmuna, pasauthon ma Tuhanta Debata
3)     Asa naung sampulu pitu ma, jumadi sampulu-alu; Sude hata na uli na pinsahatmunai, ampuonnami ma i martonga ni jabu.

Umpama oleh Raja-parhata dari pihak parboru dalam hal mengucapkan dan akan membagi uang “ingot-ingot” (setelah menerima porsi dari pihak paranak untuk digabungkan):
Nunga jumpang tali-aksa ihot ni ogung oloan
Nunga sidung sude hata, ala tangkas do hita masipaolo-oloan
Bulung ni losa ma tu bulung ni indot
Bulung motung mardua rupa,
Sude na tahatai i ingkon taingot
Asa unang adong hita na lupa ….; Ingot-ingot; ingot-ingot; ingot-ingot.

Umpana dalam waktu menutup pembicaraan dalam pesta-kawin: dengan cara membagi uang “Olop-olop,” oleh Raja-parhata fihak parboru, setelah menerima porsi uang olop-olop dari fihak paranak untuk digabungkan:
Asa binanga ni Sihombing ma binongkak ni Tarabunga
Tu sanggar ma amporik, to lombang ma satua
Sinur ma na pinahan, jala gabe na niula
Simbur magodang angka dakdanak songon ulluson pura-pura
Hipas angka na magodang tu pengpengna laho matua
Horas pardalan-dalan, mangomo nang partiga-tiga
Manumpak ma Tuhanta dihorasi hita saluhutna,…
Asa aek siuruk-uruk, ma tu silanlan aek Toba
Na metmet soadong marungut-ungut, na magodang sude marlas ni roha…
Olop-olop; olop-olop; olop-olop.
DUKA CITA
Hanya dalam keadaan duka-cita yang mendalam, karena kematian di luar bentuk “saur-matua” (terkadang juga di luar “sarimatua”):
Setelah mengucapkan kata-kata penghiburan dalam bentuk prosa; maka ditutup dengan puisi (umpama):
Asa songon hata ni umpama ma dohononku:
Bagot na madungdung ma, tu pilo-pilo na marajar
Sai salpu ma angka na lungun, sai ro ma angka na jagar.
Atau:
Hotang binebebe, hotang pinulos-pulos
Unang hamu mandele, ai godang do tudos-tudos.



FALSAFAH.
1. Dijolo raja sieahan, dipudi raja sipaimaon
   (Hormatan do natua-tua dohot angka raja).
2. Sada silompa gadong dua silompa ubi,
   (Sada pe namanghatahon Sudema dapotan uli.)
3. Pitu batu martindi sada do sitaon nadokdok
    (Unang maharaphu tu dongan).
4. Jujur do mula ni bada, bolus do mula ni dame
    (Unang sai jujur-jujuri salani dongan, alai bolushon ma).
5. Siboru buas siboru Bakkara, molo dung puas sae soada mara
   (Dame ma).
6. Sungkunon poda natua-tua, sungkunon gogo naumposo
   (Bertanggung-jawab).
UMPASA NI NAPOSO BULUNG. (Buat orang-orang muda)
- Jolo tiniktik sanggar laho bahenon huru-huruan,  Jolo sinukkun marga asa binoto partuturan.
- Tudia ma luluon da goreng-goreng bahen soban, tudia ma luluon daboruTobing bahen dongan.
- Tudia ma luluon da dakka-dakka bahen soban,  Tudia ma luluon da boru Sinaga bahen dongan.
- Manuk ni pealangge hotek-hotek laho marpira,  Sirang na mar ale-ale, lobianan matean ina.
- Silaklak ni dandorung tu dakka ni sila-sila, Ndang iba jumonok-jonok tu naso oroan niba.
- Rabba na poso, ndang piga tubuan lata, Hami na poso, ndang piga na umboto hata.
UMPASA MANJALO TINTIN MARANGKUP. (Untuk pasangan saat tukar cincin)
Bulung namartampuk, bulung ni simarlasuna, Nunga hujalo hami tintin marangkup, dohonon ma hata pasu-pasuna :
Hot pe jabu i, tong doi margulang-gulang, sian dia pe mangalap boru bere i, tong doi boru ni Tulang.

2. Sai tong doi lubang nangpe dihukkupi rere, sai tong doi boru ni Tulang, manang boru ni ise pei dialap bere.
3. Amak do rere, dakka do dupang, Anak do bere, Amang do Tulang.
4. Asing do huta Hullang, asing muse do huta Gunung Tua, Asing do molo tulang, asing muse do molo gabe dung simatua.

UMPASA TU NA BARU MARBAGAS (Untuk pasangan yang baru menikah)
1. Dakka ni arirang, peak di tonga onan, badan muna naso jadi sirang, tondi mu marsigomgoman.
2. Giring-giring ma tu gosta-gosta, tu boras ni sikkoru, sai tibu ma hamu mangiring-iring, huhut mangompa-ompa anak dohot boru.
3. Rimbur ni Pakkat tu rimbur ni Hotang, sai tudia pe hamu mangalakka, sai tusima hamu dapot pansamotan.
4. Dekke ni sale-sale, dengke ni Simamora, tamba ni nagabe, sai tibu ma hamu mamora.
5. Sahat-sahat ni solu, sahat ma tu labuan, sahat ma hamu leleng mangolu, jala sai di dongani Tuhan.
6. Sahat solu, sahat di parbinsar ni ari, leleng ma hamu mangolu jala di iring-iring Tuhan ganup ari.
7. Mangula ma pangula, dipasae duhut-duhut, molo burju marhula-hula, dipadao mara marsundut-sundut.
8. Ruma ijuk tu ruma gorga, sai tubu ma anakmuna na bisuk dohot borumuna na lambok marroha
9. Anian ma pagabe tumundalhon sitodoan, arimu ma gabe molo marsipaolo-oloan.
10. Gadu-gadu ni Silindung, tu gadu-gadu ni Sipoholon, Sai tubu ma anakmuna 17 dohot borumuna 16.
11. Andor hadukka ma patogu-togu lombu, sai sarimatua ma hamu sahat tu na patogu-togu pahoppu.



UMPASA MANGAMPU
Bulung ni Taen tu bulung ni Tulan
Ba molo tarbahen, sai topot hamu hami sahali sabulan,
Molo so boi bulung ni tulan, pinomat bulung ni salaon
Ba molo so boi sahali sabulan, pinomat sahali sataon.
Ni durung si Tuma laos dapot Pora-pora
Molo mamasu-masu hula-hula mangido sian Tuhan,
Napogos hian iba, boi do gabe mamora.
Songgop si Ruba-ruba tu dakka ni Hapadan,
Angka pasu-pasu na ni lehon muna,
Sai dijangkon tondi ma dohot badan.
Mardakka Jabi-jabi, marbulung ia si Tulan
Angka pasu-pasu na pinasahat muna,
Sai sude mai dipasaut Tuhan.
Naung sampulu sada, jumadi sampulu tolu,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai anggiatma padenggan ngolu-ngolu.
Naung sapulu pitu, jumadi sapulu ualu,
Angka pasu-pasu pinasat muna hula-hula nami,
Diampu hami ma di tonga jabu.
Turtu ninna anduhur, tio ninna lote,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai unang ma muba, unang mose.
Habang pidong sibigo, paihut-ihut bulan,
Saluhut angka na tapangido, sai tibu ma dipasaut Tuhan.

Tinapu bulung nisabi, baen lompan ni pangula
Sahat ma pasu-pasu na nilehon muna i tu hami,
Sai horas ma nang hamu hula-hula.
Suman tu aek natio do hamu, riong-riong di pinggan pasu,
Hula-hula nabasa do hamu, na girgir mamasu-masu.
AKKA UMPASA NA ASING
1.  Martahuak ma manuk di bungkulan ni ruma,
     Horas ma hula-hulana,songoni nang akka boruna.
2.  Simbora ma pulguk, pulguk di lage-lage,
     Sai mora ma hita luhut, huhut horas jala gabe.
3. Hariara madungdung, pilo-pilo na maragar,
    Sai tading ma na lungun, ro ma na jagar.
4. Sinuan bulu sibahen na las,
    Tabahen uhum mambahen na horas.
5.  Eme ni Simbolon parasaran ni si borok,
     Sai horas-horas ma hita on laos Debata ma na marorot.
6. Sititik ma sigompa, golang-golang pangarahutna,
     Tung so sadia pe naeng tarpatupa, sai anggiat ma godang pinasuna.
7. Pinasa ni Siantar godang rambu-rambuna,
     Tung otik pe hatakki, sai godang ma pinasuna.
8. Tuat si puti, nakkok sideak,
       Ia i na ummuli, ima ta pareak.
9.   Aek godang tu aek laut,
       Dos ni roha sibaen na saut.
10.  Napuran tano-tano rangging marsiranggongan,
       Badan ta i padao-dao, tondita i marsigomgoman
11. Marmutik tabu-tabu mandompakhon mataniari,
      Sai hot ma di hamu akka pasu-pasu, laho marhajophon akka na sinari.
12. Bona ni pinasa, hasakkotan ni jomuran,
     Tung aha pe dijama hamu, sai tong ma dalan ni pasu-pasu.
13. Mandurung di aek Sihoru-horu, manjala di aek Sigura-gura
       Udur ma hamu jala leleng mangolu, hipas matua sonang sora mahua.
14. Dolok ni Simalungun, tu dolok ni Simamora
      Salpu ma sian hamu na lungun, sai hatop ma ro si las ni roha.

UMPASA/UMPAMA/FALSAFAH BATAK

Umpasa/ Umpama/ Falsafah Batak; ERBERD SIHOMBING lUMBANTORUAN

umpasa-batak- toba
Berbagai umpama dan umpasa batak toba dibukukan dalam pustaha (kitab dari kulit kayu)
Umpama dan Umpasa Batak Toba sejak berabad-abad yang lalu memegang peranan penting dalam kehidupan orang batak toba; baik dalam hal adat maupun kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan keduanya memiliki fungsi:
  • Nasihat
  • Doa
  • Pengakuan
  • Hukum adat
  • Menggambarkan sifat manusia
  • Untuk menyindir perilaku seseorang
  • Pedoman berdemokrasi
  • dsb
Begitu penting dan dalamnya makna umpama dan umpasa batak toba sehingga di setiap acara adat, pasti ada paling tidak salah satu di antara umpama atau umpasa yang diucapkan.  Dan bila umpasa yang diucapkan adalah suatu harapan yang juga menjadi harapan dari para hadirin, maka semua akan berkata “ima tutu”  (semoga demikian)
Akan tetapi umpama dan umpasa batak toba memiliki perbedaan yang nyata.  Bagimana membedakannya?
  • Bila dibandingkan dengan sastra Indonesia pada umumnya, maka umpama adalah seperti peribahasa, sedangkan umpasa adalah seperti pantun
  • Sebagaimana layaknya peribahasa, umpama tidak memiliki sampiran, langsung ke tujuan. Contohnya: Jolo dinilat bibir asa nidok hata (Makna: pikir dahulu baik-baik sebelum berbeicara)
  • Sedangkan umpasa sebagaimana layaknya pantun, pasti memiliki sampiran. Contohnya: Napuran huta napuran Sipoholon (sampiran). Na so olo marguru ima jolma na londongon (isi). (makna secara bebas: orang yang tidak mau belajar adalah orang yang bodoh)
Berikut ini beberapa contoh umpama dan umpasa:

Umpama:

  • Ingkon songon poting, lam marisi lam so marsoara (Makna: Semakin tinggi ilmu pengetahuan seseorang, harus semakin hati-hati berbicara)
  • Jempek do pat ni gabus (Makna: sehebat apapun seseorang menutupi kebohongannya, cepat atau lambat pasti akan terbongkar juga)
  • Jolo dinilat bibir asa nidok hata (Makna: pikir dahulu baik-baik sebelum berbeicara)
  • Lambiakmi ma galmit (Makna: Bila orang tua mengeluhkan kelakuan anaknya yang kurang baik, sadarilah bahwa itu karena kekurangan orang tua dalam mendidik anaknya itu)
  • Molo litk aek di toruan, tingkiron ma tu julu (Makna: bila ingin menyelesaikan suatu permasalahan, carilah dahulu apa penyebabnya)

Umpasa:

  • Niarit tarugi bahen tusuk ni pora-pora. Molo naeng jumpangan uli ingkon olo do loja (Makna secara bebas: Kalau ingin hidup enak harus mau bekerja keras dulu)
  • Niluluan tandok hapo dapot parindahanan. Tolap papangan mandok alai ndang tuk jamaon ni tangan (makna secara bebas: berbicara itu mudah tapi melakukannya adalah sulit)
  • Urat ni nangka ma tu urat ni hotang. Tudia hamu mangalangka di si ma dapotan (makna secara bebas: ke mana kamu pergi, semoga di situ dapat keberuntungan)
  • Salimbakbak salimbukbuk solot di pea-pea. Sahali pe margabus matua tano ndang porsea (makna secara bebas: sekali saja ketahuan berbohong, seumur hidup orang tidak akan percaya)




 


Umpasa/ Umpama/ Falsafah Batak
" Torop do bittang di langit, si gara ni api sada do
Torop do si boru nauli, tinodo ni rohakku holan ho do".
(Banyak bintang di langit, hanya satu yang paling terang,
Banyak gadis yang cantik, pujaan hatiku cuma dikau seorang)

FALSAFAH
Dijolo raja sieahan, dipudi raja sipaimaon
(Hormatan do natua-tua dohot angka raja).

Sada silompa gadong dua silompa ubi,
Sada pe namanghatahon Sudema dapotan Uli.

Pitu batu martindi sada do sitaon nadokdok
(Unang maharaphu tu dongan).

Jujur do mula ni bada, bolus do mula ni dame
(Unang sai jujur-jujuri salani dongan, alai bolushon ma).

Siboru buas siboru Bakkara, molo dung puas sae soada mara
(Dame ma).

Sungkunon poda natua-tua, sungkunon gogo naumposo
(Bertanggung-jawab).


UMPASA NI NAPOSO BULUNG.(Buat orang-orang muda)
Jolo tiniktik sanggar laho bahenon huru-huruan,
Jolo sinukkun marga asa binoto partuturan.

Tudia ma luluon da goreng-goreng bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Tobing bahen dongan.

Tudia ma luluon da dakka-dakka bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Sinaga bahen dongan.

Manuk ni pealangge hotek-hotek laho marpira
Sirang na mar ale-ale, lobianan matean ina.

Silaklak ni dandorung tu dakka ni sila-sila,
Ndang iba jumonok-jonok tu naso oroan niba.

Metmet dope sikkoru da nungga dihandang-handangi,
Metmet dope si boru da nungga ditandang-tandangi.

Torop do bittang di langit, si gara ni api sada do
Torop do si boru nauli, tinodo ni rohakku holoan ho do

Rabba na poso, ndang piga tubuan lata
Hami na poso, ndang piga na umboto hata

UMPASA MANJALO TINTIN MARANGKUP.(Untuk pasangan saat tukar cincin)
Bulung namartampuk, bulung ni simarlasuna,
Nunga hujalo hami tintin marangkup,
Dohonon ma hata pasu-pasuna

Hot pe jabu i, tong doi margulang-gulang
Sian dia pe mangalap boru bere i, tong doi boru ni Tulang.

Sai tong doi lubang nangpe dihukkupi rere,
Sai tong doi boru ni Tulang, manang boru ni ise pei dialap bere.

Amak do rere, dakka do dupang,
Anak do bere, Amang do Tulang.

Asing do huta Hullang, asing muse do huta Gunung Tua,
Asing do molo tulang, asing muse do molo gabe dung simatua.

UMPASA TU NA BARU MARBAGAS (Untuk pasangan yang baru menikah)
Dakka ni arirang, peak di tonga onan,
Badan muna naso jadi sirang, tondi mu marsigomgoman

Giring-giring ma tu gosta-gosta, tu boras ni sikkoru,
Sai tibu ma hamu mangiring-iring, huhut mangompa-ompa anak dohot boru.

Rimbur ni Pakkat tu rimbur ni Hotang,
Sai tudia pe hamu mangalakka, sai tusima hamu dapot pansamotan.

Dekke ni sale-sale, dengke ni Simamora,
Tamba ni nagabe, sai tibu ma hamu mamora.

Sahat-sahat ni solu, sahat ma tu labuan,
Sahat ma hamu leleng mangolu, jala sai di dongani Tuhan.

Sahat solu, sahat di parbinsar ni ari,
Leleng ma hamu mangolu jala di iring-iring Tuhan ganup ari.

Mangula ma pangula, dipasae duhut-duhut
Molo burju marhula-hula, dipadao mara marsundut-sundut

Ruma ijuk tu ruma gorga,
Sai tubu ma anakmuna na bisuk dohot borumuna na lambok marroha

Anian ma pagabe tumundalhon sitodoan,
Arimu ma gabe molo marsipaolo-oloan.

Gadu-gadu ni Silindung, tu gadu-gadu ni Sipoholon,
Sai tubu ma anakmuna 17 dohot borumuna 16.

Andor hadukka ma patogu-togu lombu,
Sai sarimatua ma hamu sahat tu na patogu-togu pahoppu.

UMPASA MANGAMPU
Bulung ni Taen tu bulung ni Tulan
Ba molo tarbahen, sai topot hamu hami sahali sabulan,
Molo so boi bulung ni tulan, pinomat bulung ni salaon
Ba molo so boi sahali sabulan, pinomat sahali sataon. 

Ni durung si Tuma laos dapot Pora-pora
Molo mamasu-masu hula-hula mangido sian Tuhan,
Napogos hian iba, boi do gabe mamora. 

Songgop si Ruba-ruba tu dakka ni Hapadan,
Angka pasu-pasu na ni lehon muna,
Sai dijangkon tondi ma dohot badan. 

Mardakka Jabi-jabi, marbulung ia si Tulan
Angka pasu-pasu na pinasahat muna,
Sai sude mai dipasaut Tuhan. 

Naung sampulu sada, jumadi sampulu tolu,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai anggiatma padenggan ngolu-ngolu.
Naung sapulu pitu, jumadi sapulu ualu,
Angka pasu-pasu pinasat muna hula-hula nami,
Diampu hami ma di tonga jabu. 

Turtu ninna anduhur, tio ninna lote,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai unang ma muba, unang mose. 

Habang pidong sibigo, paihut-ihut bulan,
Saluhut angka na tapangido, sai tibu ma dipasaut Tuhan. 

Obuk do jambulan, nidandan ni boru Samara
Pasu-pasu na mardongan tangiang sian hula-hula,
Mambahen marsundut-sundut soada mara. 

Tinapu bulung nisabi, baen lompan ni pangula
Sahat ma pasu-pasu na nilehon muna i tu hami,
Sai horas ma nang hamu hula-hula. 

Suman tu aek natio do hamu, riong-riong di pinggan pasu,
Hula-hula nabasa do hamu, na girgir mamasu-masu.

AKKA UMPASA NA ASING
Martahuak ma manuk di bungkulan ni ruma,
Horas ma hula-hulana,songoni nang akka boruna. 

Simbora ma pulguk, pulguk di lage-lage,
Sai mora ma hita luhut, huhut horas jala gabe. 

Hariara madungdung, pilo-pilo na maragar,
Sai tading ma na lungun, ro ma na jagar. 

Sinuan bulu sibahen na las,
Tabahen uhum mambahen na horas. 

Eme ni Simbolon parasaran ni si borok,
Sai horas-horas ma hita on laos Debata ma na marorot. 

Sititik ma sigompa, golang-golang pangarahutna,
Tung so sadia pe naeng tarpatupa, sai anggiat ma godang pinasuna. 

Pinasa ni Siantar godang rambu-rambuna,
Tung otik pe hatakki, sai godang ma pinasuna. 

Tuat si puti, nakkok sideak,
Ia i na ummuli, ima ta pareak. 

Aek godang tu aek laut,
Dos ni roha sibaen na saut. 

Napuran tano-tano rangging marsiranggongan,
Badan ta i padao-dao, tondita i marsigomgoman 

Marmutik tabu-tabu mandompakhon mataniari,
Sai hot ma di hamu akka pasu-pasu, laho marhajophon akka na sinari. 

Bona ni pinasa, hasakkotan ni jomuran,
Tung aha pe dijama hamu, sai tong ma dalan ni pasu-pasu.
xiii. Mandurung di aek Sihoru-horu, manjala di aek Sigura-gura
Udur ma hamu jala leleng mangolu, hipas matua sonang sora mahua. 

Dolok ni Simalungun, tu dolok ni Simamora
Salpu ma sian hamu na lungun, sai hatop ma ro si las ni roha.

Rabu, 30 Oktober 2013

MARTUTUR



Partuturan atau sering juga disebut Dalihan natolu yaitu burju marhula-hula, denggan mardongan tubu, elek marboru yang termasuk dalam dalihan natolu dapat dilihat dalam pembahasan dibawah ini.

Dongan sabutuha (pertalian darah)
Yang masuk dalam hubungan dongan sabutuha adalah:
1. Opung (orang tua dari ayah kita)
2. Amang (bapak)
3. Amang tua (abang dari bapak kita)
4. amang uda (adik dari bapak kita)
5. Akkang (abang)
6. Anggi ( adik)
7. Hahadoli / opung tinodohon
8. anggidoli
9. Amang mangulahi
10. opung mangulahi

Hula-hula

Yang termasuk dalam hula – hula kita adalah:
1. Simtua doli (bapak, amang tua, amang uda dari suami/istri kita)
2. Simatua boru (ibu, inang tua, inang uda dari suami/istri kita)
3. Tunggane (abang dari istri kita)
4. Inang bao (istri dari tunggane)
5. Tulang naposo (anak dari tunggane)
6. Nantulang naposo (istiri dari tulang naposo)
7. Opung (ayah / ibu dari simatua)
8. Tulang (abang dari ibu kita)
9. Nantulang (istri dari tulang)
10. Opung bao (orang tua dari ibu kita / kakek nenek dari ibu kita)
11. tulang rorobot (semua hula-hula dari hula-hula kita)
(tulang dari ibu kita dan tulang dari istri kita)
12. bona tulang (hula – hula dari opung suhut)
13. Bona ni ari (hula –hula opung suhut dari bapak kita)

Parboru
Yang termasuk dalam parboru adalah:
1. hela (suami dari putri kita)
2. lae (amangtua/amang uda ni hela)
(suami dari kakak kita)
(anak dari amang boru)
(ayah dari amang boru )
3. ito (inang tua / anang uda dari hela)
(putri dari amang boru)
(Ibu dari amang boru)
4. amang boru (Suami dari kakak bapak kita)
(abang/adik dari amangboru kita)
5. namboru (kakak dari bapak kita)
6. bere (Abang, kakak, adik dari hela)
( Anak laki-laki/perempuan dari kakak kita)
( Kakak dari amangboru kita)